Sabtu, 15 Desember 2012

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN AUD

MAKALAH
PSIKOLOGI PERKEMBANGAN AUD II
“ PENGEMBANGAN SOSIAL ANAK USIA DINI ”
MELALUI BERMAIN  

OLEH
Reguler Mandiri 2010
Dosen Pembimbing : Drs. Rinaldi, M.Psi

PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2012
A.    Hakikat Bermain bagi AUD
Dunia anak adalah dunia bermain. Bermain bagi anak bagaikan bekerja bagi manusia dewasa. Pada dasarnya anak senang sekali belajar, asal dilakukan dengan cara-cara yang menyenangkan yaitu bermain. Bermain merupakan cara yang paling tepat untuk mengembangkan kemampuan anak usia dini sesuai kompetensinya. Melalui bermain, anak memperoleh dan memproses informasi mengenai hal-hal baru dan berlatih melalui keterampilan yang ada. Selain itu bermain juga dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan anak baik secara fisik, social emosional, intelektual maupun kreativitasnya.
Menurut Singer (dalam Kusantanti, 2004) mengemukakan bahwa bermain dapat digunakan anak-anak untuk menjelajahi dunianya, mengembangkan kompetensi dalam usaha mengatasi dunianya dan mengembangkan kreativitas anak. Dengan bermain anak memiliki kemampuan untuk memahami konsep secara ilmiah, tanpa paksaan.
Bermain menurut Mulyadi (2004), secara umum sering dikaitkan dengan kegiatan anak-anak yang dilakukan secara spontan. Terdapat lima pengertian bermain :
  1. Sesuatu yang menyenangkan dan memiliki nilai intrinsik pada anak
  2. Tidak memiliki tujuan ekstrinsik, motivasinya lebih bersifat intrinsik
  3. Bersifat spontan dan sukarela, tidak ada unsur keterpaksaan dan bebas dipilih oleh anak
  4. Melibatkan peran aktif keikutsertaan anak
  5. Memilikii hubungan sistematik yang khusus dengan seuatu yang bukan bermain, seperti kreativitas, pemecahan masalah, belajar bahasa, perkembangan sosial dan sebagainya
Sebagaimana usia kanak – kanak merupakan fase golden age dimana di fase ini anak mengalami perkembangan yang sangat pesat, baik menyangkut pertumbuhan fisik dan motoriknya, perkembangan watak dan moralnya, serta emosional dan intelektualnya.  anak mulai belajar mengembangkan kemampuan bahasa dan sosialnya. Oleh karena itu, masa kanak-kanak merupakan masa yang sangat penting untuk meningkatkan seluruh potensi kecerdasannya.
Seluruh potensi kecerdasan anak akan berkembang optimal apabila disirami suasana penuh kasih sayang dan jauh dari berbagai tindak kekerasan, sehingga anak-anak dapat bermain dengan gembira. Oleh karena itu, kegiatan belajar yang efektif pada anak dilakukan melalui cara-cara bermain aktif yang menyenangkan, dan interaksi pedagogis yang mengutamakan sentuhan emosional, bukan teori akademik.

Adapun Tahapan Perkembangan Bermain menurut beberapa ahli sebagai berikut:
a.      Jean Piaget
Tahapan kegiatan bermain menurut Piaget adalah sebagai berikut:
1)      Permainan Sensori Motorik (± 3/4 bulan – ½ tahun)
Bermain diambil pada periode perkembangan kognitif sensori motor, sebelum 3-4 bulan yang belum dapat dikategorikan sebagai kegiatan bermain. Kegiatan ini hanya merupakan kelanjutankenikmatan yang diperoleh seperti kegiatan makan atau mengganti sesuatu. Jadi merupakan pengulangan dari hal-hal sebelumnya dan disebut reproductive assimilation.
2)      Permainan Simbolik (± 2-7 tahun)
Merupakan ciri periode pra operasional yang ditemukan pada usia 2-7 tahun ditandai dengan bermain khayal dan bermain pura-pura. Pada masa ini anak lebih banyak bertanya dan menjawab pertanyaan, mencoba berbagai hal berkaitan dengan konsep angka, ruang, kuantitas dan sebagainya . Seringkali anak hanya sekedar bertanya, tidak terlalu memperdulikan jawaban yang diberikan dan walaupun sudah dijawab anak akan bertanya terus. Anak sudah menggunakan berbagai simbol atau representasi benda lain. Misalnya sapu sebagai kuda-kudaan, sobekan kertas sebagai uang dan lain-lain. Bermain simbolik juga berfungsi untuk mengasimilasikan dan mengkonsolidasikan pengalaman emosional anak. Setiap hal yang berkesan bagi anak akan dilakukan kembali dalam kegiatan bermainnya.
3)      Permainan Sosial yang Memiliki Aturan (± 8-11 tahun)
Pada usia 8-11 tahun anak lebih banyak terlibat dalam kegiatan games with rules dimana kegiatan anak lebih banyak dikendalikan oleh peraturan permainan.

4)      Permainan yang Memiliki Aturan dan Olahraga (11 tahun keatas)
Kegiatan bermain lain yang memiliki aturan adalah olahraga. Kegiatan bermain ini menyenangkan dan dinikmati anak-anak meskipun aturannya jauh lebih ketat dan diberlakukan secara kaku dibandingkan dengan permainan yang tergolong games seperti kartu atau kasti. Anak senang melakukan berulang-ulang dan terpacu mencapai prestasi yang sebaik-baiknya.
Jika dilihat tahapan perkembangan bermain Piaget maka dapat disimpulkan bahwa bermain yang tadinya dilakukan untuk keenangan lambat laun mempunyai tujuan untuk hasil tertantu seperti ingin menang, memperoleh hasil kerja yang baik.
b.      Hurlock
Adapun tahapan perkembangan bermain menurut Hurlock adalah sebagai berikut:
1)      Tahapan Penjelajahan (Exploratory stage)
Berupa kegiatan mengenai objek atau orang lain, mencoba menjangkau atau meraih benda disekelilingnya lalu mengamatinya. Penjelajahan semakin luas saat anak sudah dapat merangkak dan berjalan sehingga anak akan mengamati setiap benda yang diraihnya.
2)      Tahapan Mainan (Toy stage)
Tahap ini mencapai puncknya pada usia 5-6 tahun. Antara 2-3 tahun anak biasanya hanya mengamati alat permainannya. Biasanya terjadi pada usia pra sekolah, anak-anak di Taman Kanak-Kanak biasanya bermain dengan boneka dan mengajaknya bercakap atau bermain seperti layaknya teman bermainnya.
3)      Tahap Bermain (Play stage)
Biasanya terjadi bersamaan dengan mulai masuk ke sekolah dasar. Pada masa ini jenis permainan anak semakin bertambah banyak dan bermain dengan alat permainan yang lama kelamaan berkembang menjadi games, olahraga dan bentuk permainan lain yang dilakukan oleh orang dewasa.
4)      Tahap Melamun (Daydream stage)
Tahap ini diawali ketika anak mendekati masa pubertas, dimana anak mulai kurang berminat terhadap kegiatan bermain yang tadinya mereka sukai dan mulai menghabiskan waktu untuk melamun dan berkhayal. Biasanya khayalannya mengenai perlakuan kurang adil dari orang lain atau merasa kurang dipahami oleh orang lain.
Dari penjelasan di atas maka dapat dipahami, bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh anak dengan spontan, dan perasaan gembira, tidak memiliki tujuan ekstrinsik, melibatkan peran aktif anak, memiliki hubungan sistematik dengan hal-hal diluar bermain(seperti perkembangan kreativitas), dan merupakan interaksi antara anak dengan lingkungannya, serta memungkinkan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya tersebut. Masa bermain pada anak memiliki tahap-tahap yang sesuia dengan perkembangan anak, baik kognitif, afektif, maupun psikomotor dan sejalan juga dengan usia anak.
B.     Fungsi Bermain dalam Perkembangan Sosial AUD
Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki kebutuhan dasar untuk merasa menjadi bagian dari kelompok dan belajar untuk berfungsi dalam suatu kelompok dengan komposisi dan peranan yang berbeda-beda. Melalui kegiatan bermain anak dapat mengembangkan keterampilan sosial yang dibutuhkan dalam berinteraksi seperti menunggu giliran, mengungkapkan perasaan dan keinginan secara adaptif, berkomunikasi, dan mematuhi aturan- aturan sosial. Selain itu,bermain dengan orang lain juga memberikan kesempatan bagi anak untuk menyesuaikan tindakan mereka dengan orang lain, memahami sudut pandang dan kebutuhan orang lain, mengatur emosi dan mengendalikan diri, serta berbagi ’kekuasaan’, tempat, dan ide dengan teman bermain (Creasy, Jarvis, & Berk,1998).
Bermain dapat menjadi sumber belajar, karena memberi kesempatan untuk belajar berbagai hal yang tidak diperoleh anak di sekolah maupun di rumah. Sehingga akan menimbulkan pengaruh yang sangat penting bagi penyesuaian pribadi dan sosial anak di sekolah maupun di rumah. Karena dengan bermain anak belajar untuk bermasyarakat, beriteraksi dengan teman lainnya, belajar dalam mebentuk hubungan sosial, belajar berkomunikasi dan acara mengahadapi serta memecahkan masalah yang muncul dalam hubungan tersebut. Dalam bermain anak juga belajar dalam mamahami standar moral, tentang nilai-nilai yang baik dan nilai yang kurang baik (buruk), sehingga terjalin bentuk komunikasi karena dari hubungan tersebut anak akan belajar bekerja sama murah hati, jujur, sportif, dan disanangi banyak orang atau teman.
C.    Bentuk Permainan yang Mendorong Perkembangan Sosial AUD
Beberapa ahli psikologi anak seperti Rodgers, Erikson, Piaget, Vygotsky, dan Freud, menyampaikan paling tidak ada tiga bentuk kegiatan bermain yang mendukung pembelajaran anak, yaitu, bermain fungsional atau sensorimotor, bermain peran, dan bermain konstruktif.
1.      Bermain fungsional atau sensorimotor dimaksudkan bahwa anak belajar melalui panca inderanya dan melalui hubungan fisik dengan lingkungannya. Kebutuhan sensorimotor anak didukung ketika anak-anak disediakan kesempatan untuk bergerak secara bebas berhubungan dengan bermacam-macam bahan dan alat permainan, baik di dalam maupun di luar ruangan, dihadapkan dengan berbagai jenis bahan bermain yang berbeda yang mendukung setiap kebutuhan perkembangan anak. Anak dibina dengan berbagai cara agar mereka dapat bermain secara penuh dan diberikan sebanyak mungkin kesempatan untuk menambah macam gerakan dan meningkatkan perkembangan sensorimotor.
2.      Bermain peran disebut juga bermain simbolik, pura-pura, fantasi, imajinasi, atau bermain drama. Bermain peran ini sangat penting untuk perkembangan kognisi, sosial, dan emosi anak pada usia tiga sampai enam tahun. Bermain peran dipandang sebagai sebuah kekuatan yang menjadi dasar perkembangan daya cipta, tahapan ingatan, kerja sama kelompok, penyerapan kosa kata, konsep hubungan kekeluargaan, pengendalian diri, keterampilan spasial, afeksi, dan keterampilan kognisi. Bermain peran memungkinkan anak memproyeksikan dirinya ke masa depan dan menciptakan kembali masa lalu. Kualitas pengalaman main peran tergantung pada beberapa faktor, antara lain; (1) cukup waktu untuk bermain, (2) ruang yang cukup, dan (3) adanya peralatan untuk mendukung bermacam-macam adegan permainan. Menurut Erikson terdapat dua jenis bermain peran, yaitu bermain peran mikro dan makro. Bermain peran mikro dimaksudkan bahwa anak memainkan peran dengan menggunakan alat bermain berukuran kecil, misalnya orang-orangan kecil yang lagi berjual beli. Sedangkan bermain peran makro, anak secara langsung bermain menjadi tokoh untuk memainkan peran-peran tertentu sesuai dengan tema. Misalnya peran sebagai ayah, ibu, dan anak dalam sebuah rumah tangga.
3.      Bermain konstruktif dilakukan melalui kegiatan bermain untuk membuat bentuk-bentuk tertentu menjadi sebuah karya dengan menggunakan beraneka bahan, baik bahan cair, maupun bahan terstruktur, seperti air, cat, krayon, playdough, pasir, puzzle, atau bahan alam lain. Bermain pembangunan menurut Piaget dapat membantu mengembangkan keterampilan anak dalam rangka keberhasilan sekolahnya dikemudian hari. Melalui bermain pembangunan, anak juga dapat mengekspresikan dirinya dalam mengembangkan bermain sensorimotor, bermain peran, serta hubungan kerja sama dengan anak lain dan menciptakan karya nyata.
Dengan menyediakan beraneka jenis mainan yang tepat bagi anak, peralatan, dan tempat yang memadai, serta memberi kesempatan yang cukup kepada anak untuk bermain, misalnya anak mendapat kesempatan memilih serangkaian kegiatan bermain setiap hari untuk terlibat dalam bermain peran, bermain pembangunan, dan sensorimotor, hal itu berarti memberi layanan pendidikan kepada anak TK secara optimal.
Ada beberapa dukungan penataan yang dilakukan untuk mencapai mutu pengalaman bermain, yaitu dukungan penataan lingkungan bermain, penataan pengalaman sebelum bermain, penataan pengalaman bermain saat bermain, dan juga penataan pengalaman setelah bermain.
Penataan lingkungan bermain artinya mengelola lingkungan main dengan bahan-bahan yang cukup, merencanakan intensitas dan densitas pengalaman, memiliki berbagai bahan yang mendukung jenis-jenis permainan, sensorimotor, pembangunan dan bermain peran, memiliki berbagai bahan yang mendukung pengalaman untuk mendukung hubungan sosial yang positif.
Penataan pengalaman sebelum bermain merupakan kegiatan awal yang dilakukan guru untuk memberi gagasan sebelum anak melakukan kegiatan bermain. Penataan pengalaman saat bermain, meliputi pemberian waktu kepada anak untuk mengelola dan memperluas pengalaman bermain, mencontohkan komunikasi yang tepat, memperkuat dan memperluas bahasa anak, meningkatkan kesempatan sosialisasi melalui hubungan teman sebaya, mengamati dan mendokumentasikan kemajuan bermain anak.
Sedangkan penataan pengalaman setelah bermain dimaksudkan mengajak anak untuk mengingat kembali pengalaman bermainnya dan saling menceritakan pengalaman bermain, serta mengemas permainan agar tertata kembali.
Dengan pengelolaan sarana bermain, kita dapat menciptakan situasi belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi anak untuk melakukan berbagai kegiatan, membantu anak dalam pembentukan perilaku dan pengembangan kemampuan. Selain itu, pengelolaan tersebut dapat memberi kesempatan kepada anak untuk bersosialisasi dan berkomunikasi atau berinteraksi dengan lingkungannya, membiasakan anak berperilaku disiplin dan bertanggungjawab, dapat membangkitkan imajinasi, serta mengembangkan kreativitas anak.        
D.    Alat – alat Permainan yang Mendorong Perkembangan Sosial AUD
1.      Puzzle yang dipakai adalah puzzle yang sederhana, gambarnya belum terlalu rumit dan cocok untuk anak prasekolah sampai umur 8 tahun. Puzzle ini suatu bentuk permainan beregu yang menugasi pemain untuk menggabungkan atau merangkai kembali potongan-potongan kertas berbangun tak beraturan sehingga menjadi suatu bangun atau bentuk tertentu seperti bujur sangkar, empat persegi panjang, trapesium, jajaran genjang, lingkaran, dan segi tiga.
2.      Building Block dapat dibuat dari kayu ataupun plastik. Biasanya permainan ini membangun rumah, istana, ada jembatan dan banyak pilihan bangunan lainnya. Pada prinsipnya permainan ini ialah membangun atau mendirikan suatu bangunan.
3.      Alat meronce yang berbentuk manik-manik besar dengan tali dan lubang yang cukup besar.
4.      Berbagai macam mozaik.
5.      Sudut keluarga, toko-tokoan, permainan rumah sakit, polisi, kantor pos.
6.      Papan jungkit-jungkit
7.      Perosotan dengan tinggi sedang
8.      Ayunan yang dapat di atur
9.      Kendaraan yang dapat dikendarai seperti roda tiga
10.  Rumah mainan berukuran anak
11.  Boneka
12.  Mesin kasir dan mesin tulis mainan
13.  Peralatan dokter dan perawat
14.  permainan gambar
15.  mainan musik dan berirama
E.     Usaha Guru dalam Memanfaatkan Permainan untuk mengembangkan Sosial AUD
Pemberian aktivitas bermain dan stimulasi merupakan salah satu alat untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, usaha guru yang perlu dilakukan agar tujuan dari stimulasi dengan alat permainan tercapai adalah :
1.      Guru harus sabar, perhatikan kemampuan dan minat anak, janganlah menuntut anak diluar kemampuannya.
2.      Sebelum guru mengajak anak bermain dengan menggunakan alat permainan, pelajarilah lebih dahulu cara dan tujuan bermain dari alat tersebut.
3.      Jangan memaksa anak bermain, bila si anak tidak ingin bermain. Demikian juga bila guru dalam keadaan tidak ingin bermain.
4.      Hentikan kegiatan bermain sebelum anak atau guru mulai bosan.
5.      Alat permaianan untuk anak tidak harus selalu baru.
6.      Jangan memberikan alat permainan terlalu banyak atau terlalu sedikit. Karena kalau terlalu banyak anak akan merasa bingung, sedangkan kalau sedikit anak tidak mendapatkan kesempatan secara optimal mengembangkan ketrampilannya.
7.      Bila anak perhatiannya terlalu tertuju kepada alat permainan tertentu, janganlah guru terlalu khawatir,.usahakan tetap memperkenalkan alat permainan yang lain, agar anak mendapatkan pengalaman yang lebih luas.
8.      Melalui bermain bersama, guru dan anak, juga anak dan temannya akan saling mengenal satu sama lain dan makin mengenal dirinya masing-masing.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar